Di tengah gempuran material bangunan modern, Saifuddin (51), warga RT 04 RW 01 Dukuh Kasian, Desa Jatisari, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, tetap setia menekuni profesi sebagai perajin genteng.
Pria yang telah menggeluti usaha ini sejak usia 18 tahun itu kini telah menjalani profesinya selama lebih dari tiga dekade. Ketekunan dan konsistensinya dalam memproduksi genteng tradisional terbukti mampu menjadi penopang ekonomi keluarga.
“Sejak muda sudah bikin genteng. Alhamdulillah dari sini bisa menyekolahkan anak, bangun rumah, sampai punya kendaraan,” ujarnya Sabtu (18/4/2026).
Dalam kesehariannya, Saifuddin mampu memproduksi hingga 500 keping genteng. Proses produksi masih dilakukan secara tradisional, mulai dari pengolahan tanah liat hingga pencetakan dan pembakaran.
Meski tergolong usaha rumahan, hasil produksinya cukup diminati. Genteng buatan Saifuddin dijual dengan harga berkisar Rp1 juta hingga Rp1,1 juta per seribu keping, tergantung kualitas dan permintaan pasar.
Menurutnya, tantangan sebagai perajin genteng saat ini cukup beragam, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga persaingan dengan material modern. Namun demikian, ia tetap optimistis usahanya akan terus bertahan.
“Yang penting tetap jalan dan menjaga kualitas. Pelanggan masih ada yang cari genteng tanah liat,” katanya.
Saifuddin berharap, ke depan generasi muda juga mau melanjutkan usaha kerajinan genteng yang telah menjadi bagian dari kearifan lokal tersebut.
Dengan pengalaman puluhan tahun, Saifuddin menjadi salah satu contoh perajin yang mampu bertahan sekaligus membuktikan bahwa usaha tradisional tetap memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.












