He&She

Perjuangan Penjual Bubur di Jepara, Menabung Bertahun-tahun Hingga Akhirnya Berangkat Haji

12
×

Perjuangan Penjual Bubur di Jepara, Menabung Bertahun-tahun Hingga Akhirnya Berangkat Haji<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260430_100018_014.sdocx-->

Sebarkan artikel ini

Jepara– Kisah inspiratif datang dari seorang nenek Karmi (68) penjual bubur keliling warga warga Rt 3 Rw 3 Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara yang berhasil mewujudkan impiannya untuk menunaikan ibadah haji dari hasil jerih payahnya sendiri.


Perempuan lansia yang akrab disapa Mbah Karmi ini mengaku, perjalanan menuju Tanah Suci bukanlah hal yang instan. Ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan bubur jagung, sate usus, dan botok yang dijajakannya setiap sore hari.


“Menabungnya sedikit demi sedikit. Kadang bisa simpan Rp50 ribu, Rp100 ribu, atau Rp25 ribu, tergantung hasil jualan,” ujar Mbah Karmi saat ditemui dirumahnya.


Setiap hari, Mbah Karmi berkeliling kampung mulai pukul 16.00 WIB untuk menjajakan dagangannya. Meski penghasilannya tidak besar, ia tetap konsisten menyisihkan sebagian uangnya demi cita-cita berangkat haji.


“Iya, jualannya keliling kampung. Bubur jagung,” katanya singkat.


Dalam proses menabung, Mbah Karmi juga sempat menginvestasikan uangnya dengan membeli ternak seperti ayam, kambing, hingga sapi. Setelah dirasa cukup, ternak tersebut dijual untuk biaya pendaftaran haji.


“Awalnya beli ayam, lalu kambing, setelah itu sapi. Setelah dijual, langsung saya daftarkan untuk haji,” tuturnya.


Mbah Karmi mengungkapkan, dirinya telah menunggu sekitar enam tahun sejak mendaftar hingga akhirnya ia dan suaminya yakni mbah Kusrin (73)   mendapat kesempatan berangkat.

Ia dijadwalkan berangkat pada hari Minggu 3 Mei 2026 , tergabung dalam kloter 38.


“Menunggunya enam tahun. InsyaAllah berangkat hari Minggu,” ujarnya.


Menjelang keberangkatan, Mbah Karmi dan suami juga telah mempersiapkan kondisi fisik dan kesehatannya dengan rutin berjalan kaki setiap pagi setelah salat Subuh. Ia mengaku tetap aktif beraktivitas ringan agar tubuhnya tetap bugar.


“Setiap pagi jalan kaki. Kalau siang istirahat, tapi tetap kerja sedikit-sedikit. Tidak betah kalau hanya duduk,” katanya.


Kisah Mbah Karmi menjadi bukti bahwa ketekunan, kesabaran, dan kerja keras dapat mengantarkan seseorang mewujudkan impian, termasuk menunaikan ibadah haji, meski dari usaha sederhana sebagai penjual bubur keliling.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *