Jepara – Tak jauh dari pusat kota, tepatnya di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, terdapat kompleks pemakaman Auliya’ Daeng.
Di tempat inilah dimakamkan seorang tokoh yang oleh warga dikenal dengan sebutan Mbah Daeng.
Juru Kunci Makam Mbah Daeng, Abdul Qodir Al Fasiri, menceritqkan terdapat tokoh sepuh yang bernama Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya, seorang ulama keturunan Rasulullah SAW yang datang dari Bugis dan berdakwah di Jeparq pada masa kerajaan Islam.
“Daeng itu sebutan, beliau merupakan tokoh dari Bugis Makassar yang kemudian berdakwah sampai ke Jepara,” ceritanya saat ditemui di kompleks Makam Mbah Daeng, Kamis (26/2/2026).
Qodir menyampaikan, Mbah Daeng bukan hanya pendakwah, tetapi juga pejuang. Ia turut membantuRatu Kalinyamat bersama pasukannya dalam menghadapi Portugis yang kala itu berupaya menguasai wilayah Jepara.
Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan di pesisir utara Jawa.
Benteng yang berada di wilayah Donorojo, bagian utara Jepara, kerap disebut masyarakat sebagai Benteng Portugis.
Namun sejatinya, benteng itu dibangun sebagai pertahanan untuk menghadapi Portugis, bukan sebagai markas bangsa Portugis.
Hingga kini, bangunan tersebut menjadi saksi bisu perlawanan masyarakat Jepara pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat.
“Ia merupakan prajurit pahlawan saat melawan bangsa Portugis di wilayah utara Jepara (Donorojo),” bebernya
Berdasarkan data yang dihimpun Kompleks Maqbaroh Auliya’ Daeng sendiri memiliki keistimewaan tersendiri. Berdasarkan penuturan Habib Luthfi bin Yahya, tempat tersebut kerap disebut sebagai ‘Zambalnya Indonesia’.
Sebutan itu merujuk pada Maqbaroh Zambal di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman, yang dikenal sebagai pemakaman para wali Allah.
Katq Qodir, Di Maqbaroh Daeng, disebutkan terdapat sekitar 70-80 wali yang dimakamkan, sehingga masyarakat memandangnya sebagai lokasi yang memiliki kemuliaan serupa.
Ukuran makam mbah daeng pun tidak seperti makam pada umumnya. Tampak beberapa makam memiliki ukuran sekitar 4 meter.
Qodir menyebut, ukuran tersebut masih belum diketahui secara pasti apakah ukuran badan mbah daeng memang tinggi atau karena makamnya sengaja dipanjangkan agar para peziarah tidak serta melangkahinya.
“Makamnya memang panjang-panjang, bisa jadi ini sengaja dipanjangkan, bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi. Namun ada cerita bahwa salah satu peziarah pernah ditemui makhluk setinggi pohon,” tuturnya.
Meski begitu, hingga kini, makam Mbah Daeng kerap menjadi salah satu tujuan utama ziarah, termasuk dalam agenda kunjungan Bupati Jepara bersama jajaran pemerintah daerah saat menelusuri jejak para tokoh dan pejuang di Bumi Kartini. Khususnya saat rangkaian hari jadi Kota Ukir.










