Jepara – Merayakan sepekan lebaran atau biasa disebut Syawalan, masyarakat Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menggelar Pesta Lomban. Dalam pesta itu, masyarakat akan melarung kepala kerbau sebagai ungkapan syukur.
Rangkaian Pesta Lomban diawali dengan mengarak kerbau yang hendak disembelih sebagai bentuk penghormatan. Tahun ini, kirab kerbau Lomban digelar Jumat (27/3/2026) yang dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Jobokuto.
Kepala Disparbud Kabupaten Jepara Ali Hidayat mengatakan, setelah diarak kerbau nanti akan disembelih, daging kerbau dibagikan kepada masyarakat nelayan untuk diolah menjadi aneka masakan yang nantinya di makan di TPI, kerbau jenis bule ini dibeli dengan harga 50 juta dengan berat kurang lebih 350 kilogram. Sementara kepala kerbaunya akan di larung ke tengah laur pada Sabtu (28/3/2026) pagi.
” Setelah diarak kerbau akan disembelih, dagingnya di masak dan dimakan bareng di TPI Ujung Batu. Seterusnya kepala kerbaunya di larung ke tengah laut ke esokan harinya,” Jelas Ali Jumat (27/3/2026).
Ali mengatakan, penyembelihan kerbau dalam kegiatan pekan Syawalan adalah ungkapan rasa syukur. Adapun nilai edukasinya adalah mengajak masyarakat untuk ikhlas bersedekah.
“Dagingnya disedekahkan pada masyarakat, kepala kerbau yang dilarung juga dimaksudkan sebagai sedekah untuk makhluk Allah SWT yang ada di laut,” katanya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyampaikan Kirab Kerbau Pesta Lomban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara.
“Pada pagi hari ini kita dapat bersama-sama mengikuti Kirab Kerbau Pesta Lomban, sebuah tradisi yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran kerbau bule dalam kirab tahun ini memiliki filosofi tersendiri.
“Ada hal baru, yakni kerbau bule. Ini melambangkan semangat baru dan kekuatan yang luar biasa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa kirab ini juga menjadi simbol keterbukaan dan kejujuran kepada masyarakat.
“Kirab ini bukan sekadar arak-arakan, tetapi juga simbol keterbukaan, bahwa kerbau yang akan dilarung adalah utuh, bukan hanya kepalanya. Ini sekaligus menjawab pemahaman yang berkembang di masyarakat serta menjaga nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun,” tambahnya.












