Jepara – Penantian panjang para pedagang di Desa Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, akhirnya terjawab. Setelah kurang lebih delapan tahun menunggu, proses relokasi dari pasar lama ke Pasar Baru Bangsri resmi direalisasikan pada Rabu (29/4/2026).
Wakil Bupati Jepara, M Ibnu Hajar atau yang akrab disapa Gus Hajar, menyebut momen ini sebagai tonggak penting bagi masyarakat Bangsri, khususnya para pedagang yang selama ini menanti kepastian relokasi.
“Peresmian ini menjadi momentum penting yang sudah lama dinantikan oleh masyarakat, terutama para pedagang di Bangsri,” ujar Gus Hajar.
Perpindahan ke pasar baru disambut dengan antusias tinggi oleh para pedagang. Mereka menilai fasilitas yang lebih modern akan meningkatkan kenyamanan dalam berjualan sekaligus menarik lebih banyak pembeli.
Di tengah tantangan maraknya belanja daring, pemerintah daerah mendorong pasar tradisional agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kita harus berani bersaing. Pasar tradisional tidak boleh kalah dengan belanja online,” tegas Gus Hajar.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar meramaikan pasar baru.
“Nanti lewat Disperindag akan dilakukan sosialisasi agar masyarakat mau berbelanja dan meramaikan pasar baru ini,” lanjutnya.
Guna menghindari dualisme aktivitas perdagangan, pemerintah berencana menutup total pasar lama dan merobohkan bangunannya. Aktivitas ekonomi akan dipusatkan sepenuhnya di gedung baru.
Sementara itu, Kepala Disperindag Jepara, Anjar Jambore W., memastikan bahwa relokasi ini memprioritaskan pedagang lama.
“Didominasi pedagang lama semuanya. Sekitar 1.300-an pedagang sudah pindah, ini sesuai kesepakatan bersama,” ungkap Anjar.
Terkait kios yang masih kosong, pihaknya menegaskan tidak akan ada praktik jual beli kios. Unit yang tersisa akan disewakan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kios yang kosong akan disewakan, bukan dijual. Kami pastikan tidak ada praktik pungli di sini,” tegasnya.
Sebagai bentuk inovasi, pengelolaan pasar kini juga dilengkapi sistem digital seperti e-karcis dan e-pasar untuk meningkatkan transparansi retribusi.
“Kita sudah pakai e-karcis dan e-pasar. Pendapatan meningkat dan tidak ada lagi tarikan manual, ini untuk mencegah kebocoran,” pungkas Anjar.
Pasar baru Bangsri dibangun sejak tahun 2018 lalu dengan biaya 60 miliar. Proyek sempat berhenti dua tahun, di tahun 2020 karena Covid-19 dan tahun 2024 karena tidak ada alokasi anggaran.
Pasar Baru Bangsri memiliki kapasitas hingga 1.354 pedagang, terdiri dari kios dalam, kios depan, lapak kering, dan lapak basah. Selain itu, kawasan ini juga direncanakan terintegrasi dengan terminal baru guna menunjang aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung.
Dengan fasilitas modern dan sistem pengelolaan yang transparan, pasar ini diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang lebih tertata, sehat, dan kompetitif di Kabupaten Jepara.












