TERKINI
Beranda Berita Bisnis Ekonomi Gaya Hidup He&She Hiburan Hukum Internasional Kesehatan Komunitas Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik Teknologi Turis Viral
Semua Berita Berita Bisnis Ekonomi Gaya Hidup He&She Hiburan Hukum Internasional Kesehatan Komunitas Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik Teknologi Turis Viral
BERITA

Vakum Sejak Pandemi, Seni Budaya Jepara Kembali Menggeliat di TMII Jakarta

Jepara – Setelah vakum sejak pandemi COVID-19, Gelar Seni Budaya Kabupaten Jepara kembali menyapa publik di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Pada pentas perdana tersebut, Jepara membawa lakon “Sang Bima” dengan memadukan wayang kulit dan wayang orang, Minggu (6/9/2026).

Pementasan ini bukan sekadar mengobati kerinduan terhadap panggung seni tradisi. Kehadiran para pelajar dan dalang cilik justru menjadi daya tarik tersendiri. Mereka tampil di hadapan ratusan pengunjung, termasuk sejumlah warga asing yang terlihat terpukau menyaksikan pertunjukan seni tradisional dari Jepara.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Ali Hidayat, menyampaikan apresiasi kepada Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan kesempatan bagi Jepara untuk kembali tampil di Anjungan Jawa Tengah TMII.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Badan Penghubung Jawa Tengah yang telah memberikan kesempatan kepada Kabupaten Jepara untuk kembali menampilkan seni dan budaya daerah di Anjungan Jawa Tengah TMII,” ujar Ali Hidayat saat ditemui di Jepara, Selasa (8/9/2026).

Dalam pementasan tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara berkolaborasi dengan Yayasan Marga Langit yang dikomandoi Ki Hendro Suryo Kartiko. Sekitar 50 peserta dilibatkan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Dua dalang cilik turut mengambil bagian. Mereka adalah Azka Basiar Al Kahfi, siswa kelas 6 MI Miftakhul Huda Sinanggul, dan M. Zakwan Putra, siswa kelas 7 SMPN 2 Bangsri.
Sementara karakter Bambangan Cakil diperankan An Shankara, siswa kelas 1 SDN Kedungcino Jepara.

“Kami ingin kesempatan tampil ini tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda Jepara untuk belajar dan berani tampil membawa seni tradisi daerah,” kata Ali.

Penampilan para pelajar tersebut mendapat sambutan antusias dari ratusan pengunjung. Keberadaan dalang cilik dan pemain muda menjadi warna tersendiri dalam lakon “Sang Bima”, sekaligus menunjukkan bahwa proses regenerasi pelaku seni tradisi di Jepara terus berjalan.

Dukungan terhadap pementasan juga datang dari masyarakat Jepara yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Sejumlah orang tua bahkan datang menggunakan dua bus untuk memberikan dukungan langsung kepada anak-anak mereka yang tampil.

Tak hanya itu, mahasiswa Jepara di Jakarta, seratusan anggota komunitas Kumpulan Wong Jeporo, serta komunitas perantau Jepara KPJ hadir bersama keluarga. Sejumlah artis dan budayawan juga turut menyaksikan pementasan.

“Kolaborasi wayang kulit dan wayang orang dalam lakon ‘Sang Bima’ menjadi upaya kami untuk menghadirkan pertunjukan tradisi yang tetap menarik bagi masyarakat, termasuk generasi muda,” lanjut Ali.

Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya Plt. Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Risturino, S.IP., M.M., serta Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Drs. Leles Sudarmanto Mangun Nagoro, selaku Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah sekaligus Komisaris PT MRT Jakarta.

Usai pementasan, dua pengamat seni yang hadir memberikan evaluasi secara langsung. Mereka mengapresiasi kesungguhan Kabupaten Jepara dalam melestarikan budaya serta memberikan salut terhadap semangat para pemain dalam membawakan pertunjukan.

Bagi Jepara, kembalinya Gelar Seni Budaya di TMII menjadi momentum penting untuk kembali memperkenalkan kekayaan seni tradisi daerah di tingkat nasional setelah terhenti sejak masa pandemi.

“Kehadiran dalang cilik dan pemain muda ini sangat penting untuk memastikan seni tradisi Jepara tidak berhenti pada generasi sekarang, tetapi terus memiliki penerus,” tegas Ali.

Pentas “Sang Bima” akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Di atas panggung TMII, Azka, Zakwan, dan An Shankara menunjukkan bahwa wayang dan seni tradisi masih memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Keberanian anak-anak Jepara tampil memainkan wayang menjadi harapan bagi keberlangsungan seni tradisi. Mereka bukan hanya diperkenalkan pada kesenian masa lalu, tetapi juga dipersiapkan untuk menjadi bagian dari masa depan kebudayaan Jepara.

Dari panggung tempat mereka belajar hari ini, bukan tidak mungkin kelak lahir dalang, seniman, dan budayawan muda Jepara yang mampu membawa kesenian daerah ke panggung yang lebih luas.

Dengan demikian, kembalinya Gelar Seni Budaya Jepara setelah vakum sejak pandemi menjadi momentum untuk membangun kembali ekosistem seni budaya daerah. Sebab, budaya tidak cukup hanya dipertahankan dengan terus dipentaskan. Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi muda yang mau belajar, mencintai, dan meneruskannya.