Berita

Lakon Uwit, Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Alam dan Kerukunan

6
×

Lakon Uwit, Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Alam dan Kerukunan

Sebarkan artikel ini

Jepara – Bordi tengah berkeliling desa mencari pohon-pohon berukuran besar untuk ditebang. Batang kayu dari pohon-pohon besar itu akan dijadikan segala macam jenis mebel rumah tangga. Salah satu pohon yang diincar Bordi adalah pohon winong.


Keinginan Bordi membeli pohon winong di tanah desa itu dihalang-halangi Kang No. Pedagang kopi keliling dan sebagaian besar masyarakat desa setempat meyakini, pohon winong yang diincar Bordi adalah pohon keramat. Pohon winong itu menjadi sumber kehidupan warga lantaran pohon berukuran besar adalah sumber juga kantong air.


“Aku tidak rela kalau pohon itu (winong) kamu beli terus kamu tebang. Pohon itu pohon keramat, sumber kehidupan warga. Air dari sumber mata air di dekat pohon itu mengaliri sawah-sawah warga,” ujar Kang No dalam bahasa Jawa.


Ya, itu sepenggal cerita pertunjukan Thongprak dengan lakon Uwit yang dibawakan Komunitas Baress di hadapan ratusan warga Desa Sukosono Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara, Sabtu malam, 9 Mei 2026.


Thongprak dengan lakon Uwit tampil tidak hanya menghibur masyatakat. Namun juga sarat ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Salahsatunya dengan mempertahankan keberadaan pohon-pohon besar di tengah-tengah masyarakat maupun yang berada di hutan.


“Apa kamu sudah lupa, banjir bandang yang terjadi di mana-mana, salah satu penyebabnya adalah karena pohon-pohon besar yang ada di hutan ditebangi. Boleh menebang pohon, tapi sebelum menebang harus didahului dengan menana, jadi ketika pohon yang sudah besar-besar di tebang sudah ada pohon yang hidup menggantikan,” tandas Kang No.


Meski telah panjang lebar disampaikan Kang No akan manfaat keberadaan pohon-pohon besar, Bordi tetap teguh niatnya untuk membeli dan menebang pohon itu. Seketika jiwa nasionalis Kang No membara.


Kang No meminta Bordi kembali melafalakan dasar negara Republik Indonesia, Pancasila. Tiba pada sila ke tiga, Persatuan Indonesia, Kang No mengingatkan bahwa lambang sila ketiga adalah pohon besar (beringin). Lambang itu tidak semata-mata dibuat begitu saja, tapi ada makna yang dikandung.


“Kenapa gambarnya pohon besar, karena pohon besar yang rindang adalah simbol pengayom masyarakat. Kemudian akar yang kuat adalah simbol persatuan. Artinya, bangsa ini akan tetap kokoh berdiri mengayomi masyakatnya apa bila masyarakat (akar) menjaga persatuan,” papar Kang No yang diperankan Rhobi Shani, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Garuda Pancasila bersama-sama seluruh penonton dengan iringan musik thongthek.


Sebelum pertunjukan dipungkasi dengan turut tampilnya moden desa setempat, Muhammad Sholeh, penampilan dua pelawak kocak Amin Sururi dengan Sugiyarto, mampu mengocok perut penonton. Kelakar tawa penonton tanpa henti sejak munculnya dua pemain berpenampilan khas pemain Emprak itu. Tak terasa durasi pementasan selama dua jam pun berlalu begitu cepat.


Muhammad Sholeh berpesan agar warisan leluhur berupa sumber mata air harus dijaga. Caranya, melestarikan alam dengan tidak menebang pohon sembarangan. Terutama pohon di sekitar aliran sumber mata air. “Kalau  bisa malah menanam sebanyak-banyaknya,” ujarnya.


Pagelaran kesenian Thongprak itu, bagian dari puncak acara Gelar Budaya Belik Winong, Sukosono. Sehari sebelumnya, digelar Ngaji Bareng kitab Talbis Iblis bersama K. A. Fathan.

“Dukuh Winong rutin saat bulan Apit penanggalan Jawa, ruwatan banyu panguripan. Momentum sedekah bumi dibarengi gelar budaya. Tahun lalu ada penampilan Maestro Kentrung Jepara Mbah Parmo. Tahun ini Thongprak. Semoga tahun depan terlaksana gelar budaya serupa. Tentunya swadaya dan donasi dari warga,” imbuh Ketua RT 12 Sukosono Sunarto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *