Jepara – Di tengah menurunnya jumlah perajin ukir di Jepara, Rumini tetap setia menekuni profesi yang telah menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Ketekunannya selama puluhan tahun menggeluti seni ukir tak hanya mengantarkannya menjadi salah satu pengukir perempuan yang disegani, tetapi juga berhasil menguliahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Perempuan asal Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara Jawa Tengah itu mengaku telah mengenal dunia ukir sejak masih anak-anak. Lahir dari keluarga pengukir, Rumini justru tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kalau waktu itu yang bisa melanjutkan sekolah hanya keluarga yang mampu. Saya sebenarnya ingin sekolah lagi, tetapi karena tidak ada biaya akhirnya ikut belajar mengukir,” ujar Rumini saat ditemui di kediamannya, Sabtu (20/6/2026).
Sejak usia belia, Rumini menghabiskan hari-harinya mengikuti pelatihan ukir. Berjalan kaki sekitar satu kilometer setiap hari, ia belajar dari pagi hingga sore hingga akhirnya dinyatakan mahir dan dipercaya menjadi mentor bagi peserta baru.
Meski penghasilan awalnya hanya Rp125 ribu selama enam bulan ditambah uang makan, Rumini tetap bertahan. Baginya, mengukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan hobi yang menghasilkan pendapatan.
“Bertahan ya karena memang senang. Mengukir itu seperti hobi tapi digaji,” katanya.
Kecintaannya terhadap seni ukir membuahkan hasil. Selama lebih dari 35 tahun menekuni profesi tersebut, karya-karyanya telah dipasarkan hingga ke berbagai negara seperti China, Turki, Korea Selatan, Mesir, dan Malaysia.
Pendapatan dari mengukir perlahan mampu menopang ekonomi keluarga. Bahkan, hasil kerja kerasnya menjadi bekal untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Alhamdulillah hasil kerja dari mengukir, anak pertama saya sekarang bisa berkuliah,” ungkap ibu dua anak tersebut dengan penuh syukur.
Rumini mengatakan, profesi pengukir sangat memungkinkan ditekuni perempuan karena dapat dikerjakan dari rumah dan tidak terikat jam kerja yang kaku. Ia bahkan tetap bisa mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga sambil mengukir.
Namun perjalanan yang dilaluinya tidak selalu mudah. Saat bekerja di sebuah pabrik ukiran selama 12 tahun, ia pernah mengalami diskriminasi upah. Meski kualitas dan kecepatan kerjanya setara dengan pekerja laki-laki, upah yang diterimanya jauh lebih rendah.
Pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, Rumini terus mengasah kemampuan hingga meraih berbagai prestasi. Ia menjadi Juara 2 lomba ukir pada 2022, Juara 1 pada 2024, menerima penghargaan Tokoh Pengukir Perempuan dalam Kartini Award Jepara 2025, serta penghargaan Pelestari Ukir Jepara pada tahun yang sama.
Pada 2026, Rumini juga menjadi satu-satunya perempuan yang memamerkan karya dalam Pameran Tatah Jepara yang dibuka Menteri Kebudayaan. Salah satu karya ukirnya bahkan dibeli Wakil Menteri HAM dan kini dipajang di ruang kerjanya di Jakarta.
Kini Rumini dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara. Bersama para pelestari ukir lainnya, ia aktif memberikan pelatihan kepada pelajar sebagai upaya regenerasi perajin ukir.
Menurutnya, seni ukir bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Selain untuk mencari nafkah, mengukir juga bagian dari melestarikan budaya Jepara. Yang paling penting budaya ukir tetap hidup dan punya penerus,” katanya.
Bagi Rumini, keberhasilannya menguliahkan anak melalui hasil mengukir menjadi bukti bahwa profesi pengukir masih memiliki masa depan. Di balik setiap pahatan yang dibuatnya, tersimpan harapan agar generasi muda tetap mencintai dan melestarikan identitas Jepara yang telah dikenal dunia melalui seni ukir.












