Jepara – Harapan untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak menjadi alasan ratusan orang tua siswa antusias mendatangi Sekolah Rakyat di Kabupaten Jepara, Jumat (31/7/2026).
Para wali murid datang untuk melakukan daftar ulang sekaligus melihat langsung gedung dan fasilitas sekolah yang akan menjadi tempat anak-anak mereka menuntut ilmu.
Suasana haru terlihat dari sejumlah orang tua. Bagi sebagian keluarga, Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah baru, tetapi menjadi jalan bagi anak-anak mereka untuk menggapai cita-cita di tengah keterbatasan ekonomi.
Salah satunya dirasakan Anisa Safitri, warga Desa Buaran, Kecamatan Mayong. Perempuan yang menjadi ibu dari empat anak itu harus membesarkan keluarganya dalam kondisi penuh keterbatasan.
Anisa mengatakan, tiga anaknya merupakan yatim setelah ayah mereka meninggal dunia pada 2017. Sementara satu anaknya yang masih kecil merupakan buah hati dari hubungan yang telah berakhir sejak bayi.
“Saya janda anak empat, yatim. Alhamdulillah, Sekolah Rakyat itu termasuk program yang luar biasa bagi kami untuk menyongsong mimpi-mimpi anak kami dalam keterbatasan ekonomi,” ujar Anisa.
Anak ketiga Anisa yang kini akan masuk kelas 1 SMP menjadi salah satu siswa yang diterima di Sekolah Rakyat Jepara.
Yang membuat Anisa semakin bersyukur, seluruh kebutuhan pendidikan anaknya di Sekolah Rakyat diberikan secara gratis, mulai dari seragam hingga buku pelajaran.
“Alhamdulillah gratis, tidak ada biaya sepeser pun. Seragam, buku-buku, semuanya gratis,” katanya.
Selama ini, dua anak Anisa yang lebih tua bersekolah di lembaga pendidikan lain. Karena berstatus yatim, mereka mendapat dispensasi dan beasiswa. Namun, menurut Anisa, tetap ada kebutuhan yang harus dipikirkan keluarga.
Karena itu, keberadaan Sekolah Rakyat menjadi harapan besar baginya. Ia mengaku program tersebut sangat membantu dirinya yang harus berjuang memenuhi kebutuhan empat anak.
“Iya, alhamdulillah banget. Sangat bermanfaat bagi kami,” ucapnya.
Kepala Dinsospermasdes Kabupaten Jepara, Muh Ali, mengatakan daftar ulang sengaja dilakukan pada Jumat ini untuk menjawab keresahan para wali murid yang selama ini masih mempertanyakan kepastian pelaksanaan Sekolah Rakyat.
Menurutnya, setelah daftar ulang, para siswa juga diajak berkeliling untuk mengenal lingkungan sekolah sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
“Hari ini daftar ulang karena banyak wali murid yang bertanya atau resah, apakah ini jadi sekolah atau tidak. Setelah ini anak-anak diajak keliling sekolah agar mereka tahu tempat yang akan menjadi lokasi belajar,” jelas Muh Ali.
Ia menambahkan, pembangunan gedung Sekolah Rakyat ditargetkan selesai sepenuhnya pada 20 Agustus 2026. Sementara kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) direncanakan mulai 20 Agustus.
Untuk jenjang SD, SMP dan SMA, kapasitas awal masing-masing ditetapkan sebanyak 90 siswa atau tiga rombongan belajar. Namun, khusus jenjang SMP, jumlah peminat ternyata jauh melampaui kapasitas.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid, yang mengunjungi Sekolah Rakyat Jepara, menyebut tingginya jumlah pendaftar menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap program tersebut.
Ia menyebut Sekolah Rakyat Jepara menjadi salah satu yang paling lengkap dan memiliki lokasi paling luas di Jawa Tengah.
“Jadi kapasitas 90, menerima 160, ini overload. Kita berharap kalau memang masih dibutuhkan fasilitas, Pak Bupati sudah menyampaikan masih menyediakan lahan sekitar enam hektare untuk tambahan Sekolah Rakyat,” kata Abdul Wachid.
Menurut Abdul Wachid, Sekolah Rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi pintu bagi anak-anak kurang mampu untuk mengubah masa depan keluarganya.
“Ini penting untuk menyiapkan generasi-generasi kita yang akan datang, terutama anak-anak fakir miskin ekstrem yang susah untuk belajar dan tidak punya akses untuk belajar. Sekolah Rakyat ini disiapkan dengan fasilitas yang sangat lengkap,” ujarnya.












