Berita

Aksi Dalang Cilik Perempuan Curi Perhatian di Museum Pendapa Kartini Jepara

14
×

Aksi Dalang Cilik Perempuan Curi Perhatian di Museum Pendapa Kartini Jepara

Sebarkan artikel ini

Jepara – Pentas Heritage Performing Art dalam rangka soft opening Museum Pendapa Kartini pada Sabtu (25/4/2026) malam menghadirkan sajian istimewa. Penampilan dalang perempuan cilik tampil memukau dengan membawakan lakon bertajuk “Srikandi Vibes”.


Penampilan tersebut dibawakan oleh Nafihta Agustin Ramadhan bersama rekan sesama dalang perempuan dari kelompok Dalang Cilik. Mereka merupakan bagian dari Sanggar Seni Prabukusuma, Desa Cepogo, yang dipimpin Muhammad Heru Sjusilo.


Mengusung karakter Srikandi sebagai simbol keberanian dan ketangguhan perempuan, pertunjukan ini memadukan unsur tradisi dan sentuhan kekinian. Lakon “Srikandi Vibes” tidak hanya menghadirkan cerita pewayangan, tetapi juga menyuguhkan energi baru melalui interpretasi generasi muda terhadap budaya klasik.


Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai penampilan tersebut menjadi bukti bahwa regenerasi pelaku seni, khususnya dalang perempuan, mulai tumbuh di daerah. Hal ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan seni tradisi di tengah arus modernisasi.


“Ini menjadi simbol semangat generasi muda dalam melestarikan budaya. Potensi seni di Jepara terus berkembang, termasuk dari kalangan perempuan,” ujarnya.


Pentas dalang perempuan ini pun mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati area museum. Kehadiran dalang cilik perempuan dinilai membawa warna baru dalam dunia pewayangan yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.


” Kalau selama ini yang kita tau kalau dalang ya laki – laki, penampilan dalang cilik wanita membawa warna baru dalam dunia pewayangan,” jelasnya.


Melalui penampilan ini, Pemerintah Kabupaten Jepara berharap semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan, yang tertarik untuk menekuni seni pedalangan sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup dan relevan di masa kini.


Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan bahwa sejak awal masa kepemimpinannya, rumah dinas di Pendopo Kabupaten telah diserahkan kepada masyarakat dan dialihfungsikan menjadi museum. Kebijakan tersebut diambil agar fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik yang produktif dan inklusif.


“Museum ini kami kembalikan untuk masyarakat, sebagai ruang berkreasi, menghidupkan budaya, dan menampilkan potensi terbaik yang dimiliki Jepara,” ujarnya.

Menurutnya, kerja sama pengelolaan museum ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan daerah, yakni Jepara yang Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius. Salah satu fokus utamanya adalah pelestarian budaya lokal yang kaya dan beragam.


Ke depan, Museum Pendapa Kartini tidak hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga akan dikembangkan menjadi ruang kreativitas masyarakat. Selain itu, museum ini diharapkan menjadi pusat kegiatan budaya rutin serta wadah pelestarian nilai-nilai luhur bangsa, khususnya budaya Jepara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *