Berita

Perempuan Pengukir Jepara Ajak Anak-Anak Lestarikan Budaya di Hari Kartini

14
×

Perempuan Pengukir Jepara Ajak Anak-Anak Lestarikan Budaya di Hari Kartini<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260422_004232_450.sdocx-->

Sebarkan artikel ini

Jepara – Seni ukir yang menjadi urat nadi ekonomi dan budaya di Kabupaten Jepara kini menghadapi tantangan serius dalam hal regenerasi. Minimnya minat generasi muda, khususnya perempuan, memicu kekhawatiran akan hilangnya keahlian khas “Kota Ukir” ini di masa depan.


Hal tersebut disampaikan oleh Ibu Rumini, seorang tokoh pengukir perempuan sekaligus panitia kegiatan belajar mengukir bagi anak-anak perempuan dalam rangka memperingati Hari Kartini di Jepara.


Menurut Rumini, ukir bukan sekadar warisan budaya, melainkan fondasi ekonomi masyarakat Jepara. Ribuan toko mebel dan furnitur di daerah tersebut sangat bergantung pada tangan-tangan terampil para pengukir.

“Ukir itu bukan sekadar budaya Jepara, tapi juga menjadi mata pencaharian dan kekuatan ekonomi daerah. Masalahnya, pengukir kita sekarang sudah dewasa semua, dikhawatirkan nanti tidak ada penerusnya,” ujar Rumini saat ditemui di lokasi kegiatan.


Dalam momen Hari Kartini ini, Rumini secara khusus menyoroti peran perempuan dalam industri ukir. Ia mengakui bahwa profesi pengukir sering kali dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, sehingga kemampuan perempuan kerap dipandang sebelah mata.


Namun, ia membuktikan bahwa dengan ketekunan, hasil karya perempuan bisa bersaing di level nasional. Salah satu karya Rumini bahkan telah dibeli oleh Wakil Menteri HAM di Jakarta.


Selain soal karya, mengukir dinilai menjadi solusi ekonomi yang fleksibel bagi ibu rumah tangga.

“Ukir bisa dikerjakan di rumah sambil ‘momong’ anak atau mengerjakan urusan rumah tangga. Penghasilannya pun sangat menjanjikan,” tambahnya.


Kondisi regenerasi saat ini terbilang kritis. Di Desa Senenan, misalnya, Rumini mengaku menjadi salah satu dari sedikit pengukir perempuan yang masih bertahan. Banyak warga kini lebih memilih bekerja di sektor garmen atau jasa rumah tangga berbayar seperti buruh cuci dan setrika daripada menekuni seni ukir.

Melalui kegiatan yang didukung oleh antusiasme pemerintah daerah ini, diharapkan anak-anak perempuan di Jepara mulai mengenal kembali jati diri mereka sebagai generasi penerus seni ukir.


“Kita hadirkan anak-anak perempuan di sini supaya mereka mengenal dan mau belajar, sehingga seni ukir Jepara tetap lestari di masa depan,” pungkasnya.


Sejumlah siswa sekolah dasar tampak antusias mengikuti kegiatan belajar mengukir, sebuah keterampilan khas yang menjadi identitas Kota Ukir.


Salah satu peserta, Adelia Az-Zahra Salsabila siswa kelas 5 dari SDN 1 Panggang, terlihat terampil memegang alat ukir sambil mengenakan pakaian kebaya tradisional. Meski mengaku ada sedikit kesulitan, bocah berusia 11 tahun yang akrab disapa Adel ini merasa kegiatan tersebut sangat menyenangkan.


“Seru saja. Ini sudah ketiga kalinya belajar ngukir,” ujar Adel saat ditemui di sela-sela kegiatannya.


Keahlian Adel dalam memahat kayu rupanya tidak datang begitu saja. Ia mengaku bakat tersebut mengalir dari sang ayah yang juga memiliki kemahiran dalam seni ukir di rumah.

Kegiatan yang bertepatan dengan momentum Hari Kartini ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya mengenal sosok pahlawan nasional tersebut secara simbolis, tetapi juga mewarisi ketekunan dan rasa cinta terhadap budaya daerahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *