Jepara – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen (Purn) Eddy Hartono berkunjung ke Pondok Pesantren Al Muttaqin, Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Rabu (12/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pendampingan dan pembinaan terhadap pesantren yang sebelumnya memiliki afiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI). Pendampingan dilakukan sebagai tindak lanjut deklarasi pembubaran JI pada Desember 2024.
Eddy mengatakan, pemerintah bersama berbagai pihak berupaya membangun ketahanan pesantren melalui pembinaan keagamaan sekaligus penguatan keterampilan kewirausahaan bagi para santri.
“Ini sebenarnya tindak lanjut dari deklarasi eks Jemaah Islamiyah Desember 2024 lalu. Karena pesantren ini dulunya afiliasi dari JI, sehingga ini tanggung jawab kami sebagai negara untuk terus melakukan pembimbingan, pembinaan dan pendampingan dalam kerangka deradikalisasi,” ujar Eddy.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya melibatkan BNPT dan Densus 88 Polri. Pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, dunia usaha hingga perguruan tinggi turut dilibatkan untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren.
Para santri mendapatkan sejumlah pelatihan, mulai dari cukur rambut, barista, content creator hingga perbaikan AC. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi santri untuk berwirausaha sekaligus membangun ekosistem ekonomi di lingkungan pesantren.
“Prinsipnya pemerintah dan masyarakat itu berkolaborasi. Harapannya ke depan kita menciptakan sistem atau siklus ekonomi di pesantren, sehingga anak-anak ini punya bekal untuk masa depannya,” katanya.
Eddy menegaskan pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kegiatan yang berlangsung hingga 17 Agustus tersebut akan dilanjutkan dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Jepara.
“Pendampingan BNPT terus berlanjut, berkesinambungan, didukung oleh pemerintah daerah. Bupati dan Wakil Bupati hadir dua-duanya, ini menunjukkan komitmen bahwa pemerintah daerah juga men-support kegiatan ini,” tegasnya.
Selain pembinaan kewirausahaan, BNPT juga menggandeng Kementerian Agama untuk melakukan pemantauan terhadap kurikulum dan sistem pembelajaran di pesantren.
Menurut Eddy, pelibatan sejumlah tokoh eks JI dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting untuk memastikan perubahan pemahaman berjalan dari internal komunitas itu sendiri.
“Kami dengan menggandeng Kementerian Agama untuk memonitor kurikulum di pesantren ini. Ada juga tokoh-tokoh eks Jemaah Islamiyah yang memberikan materi supaya misi daripada JI kembali kepada NKRI itu betul-betul dari hati,” jelasnya.
Eddy juga menyoroti ancaman paparan ekstremisme terhadap anak-anak melalui internet dan media sosial. Dalam dua tahun terakhir, BNPT bersama aparat intelijen dan penegak hukum melakukan pencegahan terhadap sekitar 250 anak yang disebut berpotensi terpapar dan terlibat dalam aktivitas terorisme.
Ia mengungkapkan, proses perekrutan dapat dimulai dari aktivitas yang terlihat biasa, termasuk permainan daring. Pelaku memanfaatkan komunikasi dalam gim untuk membangun kedekatan dengan calon target sebelum mengarahkannya ke grup komunikasi lain.
“Anak-anak di bawah umur ini terpapar di media internet, media sosial, bahkan ada juga yang di game online. Ada proses grooming, mengumpulkan supaya nanti bisa disusupi simpatisan jaringan terorisme untuk melakukan rekrutmen,” pungkas Eddy.
BNPT menilai pencegahan ekstremisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Penguatan lingkungan pesantren, literasi digital, pengawasan pembelajaran dan kemandirian ekonomi dinilai menjadi bagian penting untuk mempersempit ruang tumbuhnya intoleransi, radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.