Berita

Program Gentengisasi Nasional Presiden Prabowo Jadi Harapan Baru Bagi Perajin Genteng Jepara

13
×

Program Gentengisasi Nasional Presiden Prabowo Jadi Harapan Baru Bagi Perajin Genteng Jepara

Sebarkan artikel ini

Jepara – Kabar mengenai program pembangunan perumahan nasional yang digagas oleh pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo membawa angin segar bagi para perajin genteng tradisional di wilayah Jepara, Jawa Tengah.

Setelah sempat mengalami kelesuan pasar selama beberapa tahun terakhir, para produsen menyatakan kesiapan penuh untuk memenuhi kebutuhan material dalam skala besar.


Seorang perajin genteng asal Desa Mayong Suratno mengungkapkan bahwa para pelaku usaha di desanya menyambut antusias rencana keterlibatan mereka dalam proyek nasional tersebut. Ia menyebutkan bahwa program ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat setelah masa kejayaan industri genteng tanah liat sempat meredup sejak sepuluh hingga lima belas tahun yang lalu.


“Mudah-mudahan nanti program itu berjalan lancar. Biar masyarakat bangkit lagi, tidak seperti keadaan sekarang, biar bisa seperti dulu lagi,” ujarnya Sabtu (18/4/2026).


Meski saat ini kapasitas produksi harian rata-rata berada di angka 1.500 keping per hari dengan tenaga kerja terbatas, para perajin mengklaim mampu meningkatkan output secara signifikan. Pada masa kejayaannya pada 15 tahub lalu, bengkel-bengkel genteng di daerah ini terbiasa bekerja dalam sistem shift siang dan malam untuk memenuhi permintaan.

Terkait ketersediaan bahan baku, para perajin memastikan stok tanah liat di wilayah tersebut masih sangat mencukupi dan memiliki kualitas yang baik. Selama ini, distribusi genteng produksi lokal telah menjangkau berbagai wilayah, terutama ke arah timur seperti Rembang, Kediri, hingga Nganjuk.


Menariknya, para perajin mulai melihat adanya tren konsumen yang kembali beralih ke genteng tanah liat. Hal ini dipicu oleh pengalaman pengguna atap logam atau galvalum yang merasa suhu ruangan menjadi jauh lebih panas dibandingkan menggunakan genteng tradisional.


“Sekarang kan peminat seng sudah banyak. Tapi setelah berjalan, yang pasang seng pada merasa ‘Lho kok panas?’. Nah, sekarang mulai banyak yang balik pakai genteng lagi,” tambahnya.


Meski optimistis, para perajin tidak menampik bahwa kendala permodalan masih menjadi hambatan utama dalam menjaga kontinuitas produksi. Bagi perajin kecil, perputaran uang sangat bergantung pada kecepatan penjualan barang yang sudah jadi.


Dengan adanya kepastian pesanan melalui program pemerintah, diharapkan masalah permodalan ini dapat teratasi karena adanya pasar yang jelas. Para perajin berharap pemerintah memberikan perhatian serius agar produsen lokal benar-benar bisa merasakan dampak positif dari pembangunan infrastruktur nasional tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *