Jepara– Suasana lapangan Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara,Jawa Tengah, mendadak membara pada Selasa (21/4/2026) malam. Ribuan warga berkumpul untuk menyaksikan atraksi ekstrem nan sarat makna dalam rangkaian perayaan Sedekah Bumi, yakni Sepak Bola Api.
Pertandingan yang menggunakan bola kelapa yang direndam minyak dan dibakar ini bukan sekadar hiburan. Bagi warga setempat, tradisi ini merupakan simbolisasi untuk memerangi hawa nafsu manusia melalui elemen api.
Kepala Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, mengatakan, bahwa tradisi bertajuk “Sepak Bola Api ” ini telah rutin digelar sebanyak 12 kali sejak dimulai pada tahun 2016 lalu. Dahulu, Desa Kawak yang terdiri dari empat dukuh yakni Dukuh Kawak, Rajan, Tempur, dan Setro sering kali mengalami perselisihan pendapat.
“Dulu sering terjadi emosi dan perselisihan. Akhirnya disatukan untuk berprestasi dan memerangi hawa nafsu agar bisa bergabung memajukan Desa Kawak,” ujar Eko.
Sepak bola api rutin dilaksanakan setiap tahun. Para pemaian sepak bola api didominasi anak muda.
“Kami ingin budaya-budaya lokal seperti ini menjadi warisan anak cucu kita, jangan sampai terabaikan, kita selalu evaluasi dan akan terus berinovasi supaya kebudayaan ini tetap terjaga,” kata Eko.
Para pemain sepak bola api tidak memakai alas kaki. Juga tidak mengenakan kaus, hanya memakai celana pendek. Para pemain memakai ikat kepala berwarna merah dan hijau sebagai pembeda lawan atau kawan.
Pertandingan sepak bola api dilaksanakan dalam 2 babak. Setiap babak dilangsungkan selama 15 menit. Bola yang dipakai merupakan kelapa utuh.
Salah satu pemain asal Dukuh Kawak Taufik Sanjaya yang sudah lima kali berpartisipasi mengaku tetap antusias meski harus beradu fisik dengan bola api.
“Kalau dibilang panas ya panas, tapi yang penting suka dan aman. Harapannya tahun depan bisa lebih ramai lagi,” ungkapnya usai pertandingan.
Acara diawali dengan prosesi penyerahan simbolis bola api “Agni Trisula” kepada para pemain sebelum laga dimulai. Suasana semakin pecah saat penonton bersorak setiap kali terjadi gol atau manuver berani dari para pemain di tengah kobaran api.
Kini, Sepak Bola Api telah menjadi identitas budaya Desa Kawak yang tidak hanya berfungsi sebagai ritual tolak bala dan persatuan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi dan budaya bagi masyarakat di luar Kabupaten Jepara.












