Berita

Kekeringan Datang Lebih Awal, BPBD Jepara Dropping Air Bersih ke Kedungmalang

8
×

Kekeringan Datang Lebih Awal, BPBD Jepara Dropping Air Bersih ke Kedungmalang

Sebarkan artikel ini

Jepara – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Sejak lebih dari dua bulan terakhir, aliran air PDAM di wilayah itu tidak mengalir normal sehingga warga harus menghemat penggunaan air hingga mengambil air dari sumur musala untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk membantu warga terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara menyalurkan bantuan air bersih secara rutin dua kali dalam sepekan.

Staf BPBD Kabupaten Jepara, Zainudin, mengatakan saat ini terdapat sekitar 870 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.500 jiwa yang terdampak kekeringan di wilayah Kedungmalang.

“Sampai hari ini memang kita masih menjadwalkan dua kali seminggu untuk di Kedungmalang. Dari total ada 870 KK atau kalau jiwanya kurang lebih sekitar 2.500-an jiwa di 11 RT dan 2 RW,” ujar Zainudin, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, BPBD saat ini memprioritaskan distribusi air bersih ke wilayah yang paling terdampak, khususnya di RT 3 RW 2 yang dihuni sekitar 80 KK. Setiap kali distribusi, BPBD mengerahkan truk tangki berkapasitas 4.000 liter.

“Kapasitas tangki kita memang yang baru ini 4.000 liter, sehingga kita dua kali dropping dalam sehari itu 8.000 liter,” katanya.

BPBD juga mencatat musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya kekeringan mulai terjadi pada Agustus, tahun ini dampaknya sudah dirasakan sejak Juni.

“Prediksi dari BMKG kekeringan di Jepara akan lebih panjang. Biasanya tahun-tahun sebelumnya kita mulai di bulan Agustus paling cepat, tapi tahun 2026 ini kita sudah mulai di bulan Juni,” jelasnya.

Sementara itu, warga RT 32 RW 2 Kedungmalang, Thoriqul Huda (42), mengaku sudah lebih dari dua bulan mengalami gangguan pasokan air PDAM. Dalam kondisi tersebut, warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sudah lama, dua bulan lebih. Biasanya di bulan Agustus, tapi tahun ini lebih awal,” ungkap Thoriqul.

Ia mengatakan sebelum bantuan air bersih datang, banyak warga mengambil air dari sumur musala untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sementara untuk air minum dan memasak, warga harus membeli air galon seharga Rp5.000 hingga Rp6.000 per galon.

Meski bantuan air dari BPBD cukup membantu, warga berharap pasokan air PDAM dapat kembali normal sehingga kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi tanpa harus bergantung pada bantuan maupun sumber air alternatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *