Jepara – Harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah mengalami kenaikan hingga mencapai Rp8.000 per kilogram. Kenaikan yang terjadi dalam sekitar sepekan terakhir ini disambut baik petani karena menjadi harga tertinggi yang pernah mereka rasakan selama puluhan tahun terakhir.
Salah seorang petani, Sahri (59), warga Desa Kaliombo, mengaku saat ini harga gabah mencapai sekitar Rp800 ribu per kuintal atau setara Rp8.000 per kilogram. Sebelumnya, harga gabah hanya berkisar Rp6.900 hingga Rp7.000 per kilogram.
“Per kilo ya paling enggak Rp8.000. Karena per kuintalnya 800 (ribu). Tahun dulu per kilonya Rp6.900 sampai Rp7.000,” kata Sahri.
Meski harga gabah sedang tinggi, Sahri mengungkapkan sebagian besar petani sempat mengalami gagal panen pada Musim Tanam (MT) I akibat banjir. Karena itu, hasil panen MT II diharapkan dapat menutup kerugian yang dialami sebelumnya.
“Gabah harganya tinggi pasti petani seneng. Cuma di MT 1 kemarin gagal panen semua, MT 2 ini diharapkan dapat menutup,” ujarnya.
Sahri menggarap lahan seluas lebih dari tiga hektare. Pada panen kali ini, hasil dari salah satu petaknya diperkirakan mencapai sekitar 3,7 ton gabah, lebih tinggi dari perkiraan awal pembeli yang menaksir sekitar 3,5 ton.
Selain banjir, tanaman padi miliknya juga sempat diserang tikus dan wereng. Namun serangan hama dinilai tidak terlalu parah sehingga masih dapat dikendalikan.
Di sisi lain, Sahri menyebut biaya pupuk tahun ini justru mengalami penurunan. Harga pupuk urea yang sebelumnya sekitar Rp120 ribu per sak 50 kilogram kini turun menjadi sekitar Rp90 ribu, sedangkan pupuk Phonska berada di kisaran Rp92 ribu per sak.
Meski demikian, biaya pembelian obat-obatan pertanian masih terus meningkat sehingga tetap menjadi beban bagi petani.
“Pupuk sekarang harganya turum. Yang 50 kilo sekitar Rp90 ribu, Phonska Rp92 ribu. Namun harga obat hama naik semua,” ungkapnya.
Selama sekitar dua dekade menjadi petani, Sahri mengaku baru kali ini merasakan harga gabah berada pada level tertinggi. Ia berharap harga gabah dapat tetap stabil agar kesejahteraan petani terus meningkat.
“Selama jadi petani, kurang lebih 20 tahun. Harga padi paling tinggi tahun ini. Harapannya harga gabahe tetep stabil,” pungkasnya.












