Jepara – Proses evakuasi kapal tongkang pengangkut batu bara milik PT Transpower Marine Tbk yang sempat tenggelam di Perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dua pekan lalu, mulai menunjukkan hasil. Kapal yang sebelumnya berada dalam kondisi setengah tenggelam akibat cuaca buruk kini berangsur berhasil diapungkan oleh tim penyelamat.
Berdasarkan rekaman video udara di lokasi, aktivitas evakuasi masih terus berlangsung.
Sejumlah pekerja terlihat berada di atas tongkang, sementara muatan batu bara masih berada di bawah badan kapal. Air di sekitar lokasi juga tampak menghitam akibat tumpahan batu bara yang sebelumnya mencapai sekitar 7.221 ton.
Kepala UPP Syahbandar Jepara, Juwita Sandy Sary, mengatakan proses evakuasi telah mengantongi izin dari Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) Kementerian Perhubungan.
“Pemilik kapal sebelumnya telah mengurus seluruh perizinan ke Direktorat KPLP. Secara prosedural perusahaan yang ditunjuk memiliki kualifikasi untuk melakukan evakuasi, dan alhamdulillah izinnya sudah diterbitkan,”ujar Juwita, Jumat (24/7/2026).
Evakuasi dilakukan oleh PT Lion Marine Salvage dan telah berlangsung sejak pekan lalu. Pihak Syahbandar terus memantau perkembangan proses penyelamatan kapal tersebut.
“Kami terus menerima perkembangan dan mengawasi proses evakuasi. Yang pasti sampai saat ini tidak ada korban jiwa,”katanya.
Menurut Juwita, keberhasilan pengapungan kapal sangat dipengaruhi kondisi cuaca di perairan. Meski Direktorat KPLP biasanya memberikan tenggat waktu hingga empat bulan untuk proses evakuasi, kali ini pekerjaan dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
“Belum sampai satu bulan, kapal sudah mulai berhasil diapungkan,” tambahnya.
Setelah kapal berhasil mengapung sepenuhnya, Syahbandar menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk menahan kapal selama tidak ada proses hukum yang sedang berjalan.
“Kalau saya menahan kapal, justru bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, kecuali ada penetapan dari aparat penegak hukum,”tegas Juwita.
Sementara itu, terkait 7.221 ton batu bara yang sebelumnya dilaporkan tumpah ke laut, proses penanganan dan pembersihan masih menjadi perhatian berbagai pihak. Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi mengenai jumlah batu bara yang berhasil diamankan maupun langkah pemulihan lingkungan yang akan dilakukan setelah kapal berhasil dievakuasi.
Berdasarkan hasil klarifikasi penyidik terhadap nahkoda dan kru kapal, insiden tenggelam diduga dipicu cuaca buruk. Tongkang diketahui berlayar dari Pelabuhan Banjarmasin menuju Marunda, Jakarta, pada 5 Juni 2026. Namun pada 6–7 Juni kapal diterjang cuaca ekstrem hingga mengalami kemiringan. Dalam kondisi darurat, nahkoda menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan penyelamatan sebelum akhirnya memutuskan berlindung dan menjatuhkan jangkar di perairan dekat Desa Mororejo, Jepara.












