Di Jepara, kota yang sudah lama menggema sebagai pusat ukiran, sebuah desa kecil rupanya sedang menenun cerita lain. Desa itu bernama Troso. Dari jalan-jalan desa hingga beranda rumah-rumah perajin, suara ATBM terdengar seperti lagu lama yang tak pernah padam. Setiap denyutnya menandai sebuah tradisi, sebuah budaya, sebuah sumber penghidupan.
Troso bukan sekadar lokasi produksi kain. Ia adalah ruang dimana ribuan pasang tangan bekerja menciptakan karya yang telah dikenal sebagai Tenun Ikat Troso, salah satu produk tekstil paling khas dari Jawa Tengah.
Lebih dari 5.000 penenun dan sekitar 3.000 alat tenun bukan mesin (ATBM), Troso adalah salah satu sentra tenun terkenal di Indonesia. Produksinya bisa mencapai ribuan lembar setiap minggu, dengan nilai distribusi ke pasar seperti Denpasar mencapai lima ratus juta rupiah.
“Ke Bali saja, tiap minggu bisa sampai lima ratus juta rupiah,” ujar H. Abdul Jamal, Sekretaris Desa Troso sekaligus Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Troso.
Setiap lembar tenun melewati proses Panjang, benang dipintal, digambar sesuai motif, diwarnai, dijemur supaya kering, lalu dipalet dan akhirnya bisa ditenun dengan alat tenun manual. Kualitasnya membuat Tenun Troso dipakai di panggung nasional hingga pesanan khusus mancanegara.
Motif khas Tenun Troso lahir dari pengamatan terhadap lingkungan desa. Empat dukuh—Kedawung, Ampel, Belik, Sicengkir—menjadi inspirasi utama.
“Jadi motif asli desa itu tidak ada peninggalan wong memang polos. Tapi tim mempelajari wilayah desa” ujar Jamal.
Dari sanalah lahir motif bambu, sawah dan masjid tua, aliran sungai dan teratai, hingga batu-batu alam. Bentuknya menceritakan bentang alam dan ikon khas desa sehingga jejak lokalnya kuat.
Langkah besar terjadi ketika Tenun Troso mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG). Dengan ini, nama “Tenun Troso Jepara” tidak bisa dipakai sembarangan oleh daerah lain. Perlindungan IG menjadi upaya agar kualitas dan identitas Troso tidak tergeser.
Dengan perlindungan ini, setiap produk yang membawa nama Troso harus memenuhi standar: dari motif, alat, proses pewarnaan, hingga kualitasnya.
Kini, Troso bukan lagi hanya nama sebuah desa. Ia menjadi brand yang kuat. Festival tahunan tenun, rekor MURI, ekspor ke luar negeri, hingga pemesanan khusus untuk interior rumah bangsawan dunia menjadi bukti bahwa Troso telah menembus batas-batas geografis.












