Turis

Jembul Tulakan, Warisan Budaya yang Menjaga Spirit Leluhur Jepara

24
×

Jembul Tulakan, Warisan Budaya yang Menjaga Spirit Leluhur Jepara

Sebarkan artikel ini

Jepara – Di tengah arus modernisasi, masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kembali menegaskan identitas budayanya lewat tradisi Jembul Tulakan yang digelar meriah, Senin (20/4/2026). Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan arak-arakan budaya yang bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarat makna sejarah dan spiritual.


Tradisi Jembul Tulakan merupakan warisan budaya tak benda yang telah diakui sejak 2020 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keberadaannya tidak lepas dari kisah spiritual Ratu Kalinyamat, yang diyakini bertapa di kawasan Gunung Donorojo setelah wafatnya sang suami, Sultan Hadlirin.


Dari laku tapa tersebut, lahirlah sumpah legendaris yang kemudian menjadi akar tradisi ini. Istilah “Jembul” sendiri diyakini berkembang dari kata “jambul”, yang berkaitan dengan kisah Aryo Penangsang dalam narasi sejarah Jawa.


Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus simbol penghormatan terhadap leluhur.


“Ini bukan sekadar budaya, tapi juga doa bersama masyarakat. Ada nilai spiritual yang terus dijaga turun-temurun,” ujarnya.


Dalam praktiknya, Jembul Tulakan terbagi menjadi dua bagian utama, yakni Jembul Lanang dan Jembul Wedok. Jembul Lanang berisi hasil bumi seperti sayur dan buah, sementara Jembul Wedok berisi aneka lauk pauk. Keduanya ditata artistik menggunakan ancak yang dihias bambu dan kain warna-warni, mencerminkan estetika sekaligus filosofi keseimbangan hidup.


Arak-arakan semakin hidup dengan kehadiran tokoh-tokoh punggawa rakyat seperti Said Usman, Suto Mangun Joyo, dan Mbah Leseh, lengkap dengan pasukan prajurit yang merepresentasikan wilayah dukuh setempat. Representasi ini memperkuat narasi kolektif masyarakat terhadap sejarah desa mereka.


Lebih dari sekadar ritual tahunan, Jembul Tulakan kini dipandang sebagai aset budaya yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Tradisi ini tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.


Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengapresiasi komitmen warga dalam melestarikan tradisi leluhur. Ia berharap Jembul Tulakan dapat dikembangkan menjadi agenda budaya berskala lebih luas.


“Ini kekayaan budaya yang luar biasa. Jika dikemas lebih baik, bisa menarik wisatawan dan menggerakkan UMKM,” ujarnya.


Di mata generasi muda, tradisi ini juga menumbuhkan rasa bangga. Angelin (16), pelajar asal Donorojo, mengaku terkesan dengan kemeriahan sekaligus nilai budaya yang terkandung di dalamnya.


Jembul Tulakan menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas hidup yang terus dijaga. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap berdiri sebagai pengikat sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Jepara.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *