Jepara – Pameran TATAH 2026: Suluk – Sulur – Jepara resmi berakhir di Museum Nasional Indonesia, Minggu (2/8/2026). Selama lebih dari tiga bulan penyelenggaraan, pameran yang mengangkat sejarah dan seni ukir Jepara tersebut berhasil menarik perhatian masyarakat dengan total 73.104 kunjungan.
Tingginya antusiasme pengunjung membuat pameran yang semula dijadwalkan berakhir pada 5 Juli 2026 diperpanjang hingga 2 Agustus 2026.
Bukan hanya datang untuk melihat karya ukiran, para pengunjung juga diajak mengenal lebih jauh sejarah, pengetahuan, keterampilan, serta nilai budaya yang melekat pada seni ukir Jepara.
Antusiasme pengunjung bahkan terlihat dari banyaknya unggahan di media sosial. Foto, video, hingga pengalaman setelah berkunjung ke TATAH 2026 ramai dibagikan melalui berbagai platform.
Direktur TATAH, Veronica Rompies, mengatakan respons pengunjung menunjukkan bahwa seni ukir Jepara masih memiliki daya tarik kuat ketika disampaikan melalui konsep pameran yang menarik dan mudah dipahami.
“Melalui unggahan reels dan stories, mereka menunjukkan kebanggaan setelah mengunjungi TATAH. Ada yang merasa merinding, bahkan menahan air mata karena bangga melihat kekayaan sejarah, tradisi, dan budaya Indonesia yang kami hadirkan melalui Jepara,” ujar Veronica, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, pengalaman pengunjung tersebut menjadi salah satu hal yang membuat penyelenggara optimistis bahwa pesan yang dibawa TATAH 2026 dapat diterima masyarakat luas.
Menariknya, jumlah rata-rata pengunjung justru terus mengalami peningkatan hingga mendekati akhir pameran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat bukan hanya muncul karena pemberitaan saat pembukaan.
“Ini menunjukkan ketertarikan masyarakat bukan hanya karena efek pemberitaan saat pembukaan, tetapi juga karena pengunjung yang telah datang membagikan pengalaman positif mereka. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa pesan yang ingin disampaikan TATAH dapat diterima oleh masyarakat,” jelas Veronica.
Pameran TATAH juga berupaya membuat sejarah dan seni ukir Jepara dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Tim kurator dan peneliti mengembangkan konsep pameran yang tidak hanya menampilkan keindahan karya, tetapi juga menghadirkan cerita dan pengetahuan di balik setiap ukiran.
Veronica mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari para pengukir, seniman, peneliti, sejarawan, komunitas, pemerintah, mitra, media, hingga masyarakat yang telah berkunjung dan memberikan dukungan.
“TATAH 2026 bukan perjalanan yang kami jalankan sendiri. Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa seni ukir Jepara masih hidup, dibutuhkan, dan memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Berakhirnya pameran di Museum Nasional bukan menjadi akhir perjalanan TATAH. Penyelenggara kini mulai mempersiapkan TATAH jilid 2 yang direncanakan hadir pada 2027, sekaligus menyiapkan sejumlah agenda lanjutan di Jepara.
“Sejak awal, TATAH adalah sebuah trilogi. Kami berharap seluruh kegiatan yang akan dijalankan dapat saling mendukung bagi keberlangsungan tradisi, budaya, dan seni ukir di Jepara,” pungkas Veronica.












