Jepara – Berakhirnya masa libur sekolah dan kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada kenaikan harga sejumlah bahan pangan di Pasar Jepara 1 Jawa Tengah. Sejumlah komoditas seperti sayuran, ayam potong, hingga telur mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
Pedagang menyebut lonjakan permintaan setelah dapur MBG kembali beroperasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga. Meski demikian, mereka juga mengakui pasokan masih tersedia dan aktivitas jual beli tetap berjalan meski daya beli masyarakat sedikit menurun.
Nur Saadah, pedagang sayur di Pasar Jepara 1, mengatakan kenaikan paling mencolok terjadi pada berbagai jenis sayuran. Bahkan harga timun melonjak hingga lima kali lipat dibanding saat libur sekolah.
“Sayuran yang terutama naik banyak, seperti sawi, kangkung, bayam, kacang panjang, dan timun,” ujar Nur Saadah, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, harga sawi yang sebelumnya hanya Rp3.000 per ikat kini menjadi Rp7.000. Kangkung naik dari Rp4.000 menjadi Rp6.000 per ikat.
Sementara itu, lonjakan paling tinggi terjadi pada timun dan kacang panjang.
“Timun dari awalnya Rp5.000 sekarang Rp25.000. Kacang panjang dari Rp10.000 sekarang Rp25.000 per ikat,”katanya.
Tak hanya sayuran, harga telur juga ikut mengalami kenaikan. Dari sebelumnya sekitar Rp20.000 per kilogram kini menjadi Rp25.000 per kilogram.
“Naiknya mulai Senin ini, mulai MBG. Pembelian agak mengurang sedikit. Timun juga saya tidak berani kulak banyak karena harganya terlalu tinggi,” ungkapnya.
Kenaikan harga juga dirasakan pedagang ayam potong. Denok Ernawati mengatakan harga ayam pedaging mulai naik sejak 10 Juli 2026 setelah sempat turun selama libur sekolah.
“Harga ayam potong naik mulai tanggal 10 Juli. Dari Rp32.000 sekarang menjadi Rp38.000 per kilogram. Waktu liburan sekolah memang sempat turun,” jelas Denok.
Ia menilai meningkatnya kebutuhan ayam dan telur untuk Program MBG menjadi salah satu penyebab harga kembali ke level normal.
“Yang digunakan untuk MBG itu ayam pedaging sama telur. Telur juga waktu liburan sempat murah sampai sekarang sudah mulai naik lagi. Sayur-sayur juga ikut merangkak naik,” katanya.
Meski harga mengalami kenaikan, Denok mengaku penjualan ayam di kiosnya tetap stabil. Saat MBG libur, permintaan dari sektor pariwisata seperti hotel, restoran, dan kafe menjadi penopang penjualan.
“Kalau MBG libur, hotel, resto, sama kafe ramai. Jadi penjualan tetap stabil. Saya sehari bisa menjual sekitar 6 kuintal ayam potong, 2 kuintal ayam petelur, dan 4 kuintal ayam pejantan,” pungkasnya.












