Berita

Rumah Kayu Beralaskan Tanah, Air Mata Orang Tua Lepas Anak ke Sekolah Rakyat

15
×

Rumah Kayu Beralaskan Tanah, Air Mata Orang Tua Lepas Anak ke Sekolah Rakyat

Sebarkan artikel ini

Jepara – Di sebuah rumah kayu sederhana yang masih beralaskan tanah di RT 04 RW 06 Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah tersimpan kisah haru sebuah keluarga yang menggantungkan harapan besar kepada program Sekolah Rakyat.

Pasangan Ali Mukson, buruh serabutan yang juga memperbaiki peralatan elektronik, dan Isnani, perajin tenun Troso, harus berjuang menghidupi empat anak mereka dengan penghasilan yang tidak menentu. Di tengah keterbatasan itu, putri kedua mereka, Jihan Aliya Ramadani (9), kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Bagi keluarga sederhana ini, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi secercah harapan. Seluruh kebutuhan pendidikan, makan hingga tempat tinggal Jihan ditanggung pemerintah sehingga beban ekonomi keluarga jauh berkurang.

“Sangat terbantu sekali, Pak. Soalnya saya punya empat anak. Alhamdulillah beban hidup jadi lebih ringan karena kebutuhan Jihan sudah ditanggung di Sekolah Rakyat,” ujar Isnani Sabtu (18/7/2026).

Sebelum masuk Sekolah Rakyat pada 2025, Jihan bersekolah di SD dekat rumahnya. Kini ia tinggal di asrama dan hanya sesekali pulang saat libur semester maupun Hari Raya Idulfitri.

Meski mengaku ikhlas, Isnani tidak mampu menyembunyikan kerinduannya kepada sang putri. Jihan selama ini dikenal sebagai anak yang rajin membantu pekerjaan rumah, mulai dari menyapu hingga mengerjakan berbagai pekerjaan tanpa pernah mengeluh.

“Kangen sekali, Pak. Dulu apa saja yang saya suruh pasti mau. Nyapu, bantu pekerjaan rumah, semuanya dilakukan. Sekarang rumah terasa sepi tanpa Mbak Jihan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Saat menjenguk anaknya, keluarga juga tidak diperbolehkan memberikan uang saku secara berlebihan. Orang tua hanya boleh membawa kebutuhan seperlunya sesuai aturan sekolah agar seluruh siswa mendapatkan perlakuan yang sama.

Meski berat berpisah dengan anaknya sejak usia masih sangat muda, Isnani memilih mengalahkan rasa sedih demi masa depan Jihan.

Dengan suara bergetar sambil menahan tangis, ia mengaku sempat merasa kasihan melihat putrinya harus tinggal jauh dari keluarga. Namun ia percaya keputusan tersebut merupakan jalan terbaik.

“Saya sebenarnya kasihan, Pak. Anak sekecil itu harus tinggal jauh dari rumah. Tapi semua ini demi masa depannya. Demi kebaikannya saya ikhlas, walaupun hati saya tetap sedih,” ucapnya sambil menangis.

Menurut Isnani, kemampuan dirinya sebagai orang tua sangat terbatas. Ia khawatir tidak mampu mendampingi pendidikan anak hingga jenjang yang lebih tinggi jika Jihan tetap belajar di rumah.

Ia berharap putrinya dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin, bahkan hingga bangku kuliah, agar memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding kedua orang tuanya.

“Harapan saya cuma satu, semoga Jihan bisa sekolah setinggi-tingginya dan masa depannya jauh lebih baik daripada saya. Jangan sampai hidupnya susah seperti orang tuanya,” katanya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga ini juga menerima bantuan peralatan servis elektronik dari kementerian untuk membantu usaha Ali Mukson. Meski demikian, penghasilan keluarga tetap belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan empat anak mereka.
Karena itu, Isnani berharap program-program pemerintah benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan.

“Semoga pemerintah terus memperhatikan keluarga yang benar-benar miskin seperti kami. Program seperti ini sangat membantu, asal tepat sasaran,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *