Berita

Harga Anjlok Emak-emak di Jepara Borong Telur, 500 Kg Telur Ludes Dalam Sekejap

15
×

Harga Anjlok Emak-emak di Jepara Borong Telur, 500 Kg Telur Ludes Dalam Sekejap

Sebarkan artikel ini

Jepara – Turunnya harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah disambut antusias masyarakat. Harga telur di pasar Jepara ini sempat menyentuh Rp20.000 per kilogram, banyak pembeli memanfaatkan momen tersebut dengan memborong telur untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha.

Salah satunya terlihat di Pasar Jepara 2, Sabtu (4/7/2026). Meski kini harga mulai naik menjadi sekitar Rp22.500 hingga Rp23.500 per kilogram, permintaan masih cukup tinggi meski tidak seramai saat harga berada di titik terendah.

Seorang pembeli, Asmiati, mengaku sempat membeli telur saat harganya Rp20.000 per kilogram sekitar empat hari lalu. Kini, harga telah naik menjadi Rp23.500 per kilogram.

“Empat hari yang lalu masih Rp20.000 per kilo. Hari ini sudah Rp23.500,” kata Asmiati.

Asmiati mengatakan, setiap hari dirinya membeli telur sebanyak tiga hingga empat kilogram untuk kebutuhan usaha nasi goreng yang dijalankannya. Menurutnya, harga telur yang murah sangat membantu mengurangi biaya operasional.

“Saya beli tiga sampai empat kilo buat jualan nasi goreng. Ya senang banget kalau murah. Biasanya sampai Rp30.000, sekarang Rp20.000 sampai Rp23.000, alhamdulillah lumayan,” ujarnya.

Ia berharap harga telur tetap berada di kisaran murah agar masyarakat maupun pelaku usaha kecil bisa terus merasakan manfaatnya.

“Harapannya ya begini terus,” ucapnya sambil tertawa.

Sementara itu, pedagang telur di Pasar Jepara 2, Sintawati dan Riska mengatakan penurunan harga sempat membuat penjualan meningkat drastis. Banyak pembeli yang biasanya hanya membeli satu kilogram memilih membeli tiga hingga empat kilogram untuk persediaan.

“Waktu harga Rp20.000 per kilo, pembelinya antusias banget. Biasanya beli satu kilo, jadi beli tiga sampai empat kilo buat stok,” kata Sintawati.

Ia menjelaskan, saat harga berada di level Rp20.000, stok yang terjual bisa mencapai sekitar 50 peti atau sekitar 500 kilogram per hari. Namun setelah harga naik menjadi Rp22.500 per kilogram, penjualan turun menjadi sekitar 30 peti atau 300 kilogram per hari.

Menurutnya, fluktuasi harga telur merupakan hal yang biasa terjadi sehingga pedagang sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut.

“Harga telur memang enggak bisa stabil. Kadang naik, kadang turun, habis turun langsung naik lagi seperti sekarang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *