Jepara – Harga telur ayam ras di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terus mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat peternak rakyat, termasuk peternakan milik Bumdes Mandiri Raya Desa Geneng, Kecamatan Batealit, harus menanggung kerugian karena harga jual belum mampu menutup biaya produksi.
Peternakan ayam petelur yang mulai beroperasi sejak Maret 2026 melalui program ketahanan pangan pemerintah itu memiliki populasi sekitar 1.200 ekor ayam petelur. Setiap hari kandang tersebut mampu memproduksi sekitar 60 kilogram telur atau enam krat.
Manager Bidang Usaha Ketahanan Pangan Bumdes Mandiri Raya, Muhammad Reza (22), mengatakan harga telur sempat mencapai Rp25 ribu per kilogram usai Lebaran. Namun, harga terus merosot hingga kini hanya berada di kisaran Rp18.500 per kilogram.
“Sejak kami mulai beternak, harga telur sempat Rp25 ribu per kilogram. Sekarang justru anjlok sampai Rp18 ribu hingga Rp18.500. Kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Reza, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, harga ideal agar peternak masih memperoleh keuntungan berada di angka minimal Rp25 ribu per kilogram. Di bawah harga tersebut, keuntungan peternak terus tergerus.
“Harga aman bagi peternak untuk mendapatkan keuntungan itu sekitar Rp25 ribu per kilogram. Kalau di bawah itu, apalagi sekarang hanya Rp18.500, jelas sangat berat,” ujarnya.
Reza menjelaskan, harga jual saat ini hanya cukup untuk membeli pakan. Sementara biaya operasional lain seperti vitamin, gaji karyawan, hingga biaya sewa kandang belum dapat tertutupi.
Saat ini harga pakan juga mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp384.000 per sak dari sebelumnya Rp364.000 per sak. Dalam sepekan, peternakan membutuhkan sekitar 18 sak pakan. Selain itu, biaya vitamin mencapai Rp1 juta per bulan dan gaji satu orang karyawan sebesar Rp2 juta per bulan.
“Kerugian kami sekitar 5 sampai 10 persen. Harga Rp18 ribu hanya cukup untuk membayar pakan. Biaya operasional, vitamin, dan gaji pekerja belum tertutup,” jelasnya.
Ia menduga anjloknya harga dipicu melimpahnya stok telur di pasaran sehingga harga terus tertekan. Selama ini hasil produksi dipasarkan ke toko-toko kelontong di sekitar desa.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, Reza khawatir banyak peternak kecil tidak mampu bertahan.
“Kalau harga tidak kunjung membaik, yang paling kami khawatirkan adalah gulung tikar. Harapan kami pemerintah dan seluruh stakeholder bisa bersinergi agar harga telur kembali normal di atas Rp25 ribu per kilogram sehingga peternak kecil bisa bertahan,” pungkasnya.












