Jepara – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat memberikan tekanan baru bagi industri mebel di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, para pelaku usaha harus menghadapi lonjakan biaya bahan baku dan penurunan permintaan ekspor.
Marketing Manager CV Raisa House Indonesia, Hidayatun Najihah atau Diah, mengatakan industri mebel saat ini masih berjuang menghadapi berbagai dampak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, jumlah pesanan yang masuk masih mengalami penurunan dibanding sebelumnya.
“Kalau kondisi mebel sekarang ini pun kita sebenarnya juga masih sangat berjuang. Order yang ada itu juga bisa kita katakan menurun. Jadi apa pun yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan,” kata Diah, Selasa (16/6/2026).
Diah menjelaskan, menguatnya dolar belum memberikan keuntungan bagi pelaku ekspor mebel. Sebaliknya, kenaikan kurs justru berdampak pada meningkatnya harga berbagai bahan baku dan bahan penunjang produksi yang sebagian masih bergantung pada komponen impor.
“Kalau sekarang dengan keadaan dolar yang sekarang ini sebenarnya belum cukup membantu. Karena di sisi lain semua bahan baku juga naik cukup signifikan, terutama yang mengandalkan bahan-bahan impor,” ujarnya.
Ia menyebut kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku utama seperti kayu, tetapi juga kain, plastik, bahan finishing, hingga material pengemasan. Kenaikan harga bahan-bahan tersebut bervariasi antara 7 persen hingga lebih dari 30 persen.
“Antara 7 sampai ada yang bahkan 30 persen lebih, bahan pembantunya itu naiknya,” ungkapnya.
CV Raisa House Indonesia selama ini mengekspor produk mebel ke sejumlah negara, di antaranya Afrika Selatan, negara-negara Eropa, dan Amerika Serikat. Namun kondisi ekonomi global serta tingginya biaya produksi turut memengaruhi kinerja penjualan ekspor perusahaan.
Menurut Diah, penjualan ekspor saat ini mengalami penurunan sekitar 15 hingga 20 persen dibanding periode sebelumnya.
“Penurunan mungkin ada sekitar 15 sampai 20 persen, terutama untuk yang ekspor,” jelasnya.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar dan menciptakan kebijakan yang mampu mendukung daya saing industri mebel nasional di pasar global. Mereka menilai kestabilan kurs menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha dan meningkatkan kembali kinerja ekspor sektor mebel.












