Berita

Ribuan Wisatawan Padati Perang Obor Tegalsambi, Tradisi Tolak Bala yang Kini Jadi Magnet Wisata Jepara

11
×

Ribuan Wisatawan Padati Perang Obor Tegalsambi, Tradisi Tolak Bala yang Kini Jadi Magnet Wisata Jepara

Sebarkan artikel ini

Jepara – Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2026) malam untuk menyaksikan tradisi Perang Obor. Tradisi budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia sejak 2020 itu kembali digelar meriah sebagai puncak acara Sedekah Bumi desa setempat.

Sejak pukul 19.00 WIB, kawasan dari rumah petinggi desa hingga perempatan Tegalsambi dipenuhi penonton. Mereka antusias menyaksikan arak-arakan obor yang kemudian dilanjutkan ritual doa sebelum api pertama dinyalakan.

Penyulutan obor dilakukan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo. Api lalu disulutkan ke pelepah daun pisang yang dibawa para pemain Perang Obor.

Sorak penonton pecah saat puluhan pemain mulai saling beradu obor dari pelepah pisang dan daun kelapa kering yang menyala. Atraksi penuh keberanian itu menjadi momen paling ditunggu dalam tradisi tahunan tersebut.

Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso mengatakan, penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah inovasi agar festival semakin menarik bagi wisatawan.

“Jadi sesuai dengan apa yang dikersake Bapak Bupati, kami mencoba ada beberapa sentuhan-sentuhan untuk membuat Perang Obor ini menjadi lebih menarik. Di antaranya mungkin dari kostum, dari lighting, kemudian ada sinopsis atau sedikit teatrikal yang disuguhkan oleh beberapa pemain,” ujarnya.

Agus menyebut, sebanyak 400 obor dimainkan oleh sekitar 40 warga asli Desa Tegalsambi. Tradisi tersebut terus dijaga secara turun-temurun karena memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

“Festival Perang Obor ini bisa menggerakkan ekonomi kemasyarakatan secara luas. Harapan kami Perang Obor ini bisa menjadi prioritas dari pariwisata nasional,” katanya.

Ia menjelaskan, tradisi Perang Obor bermula dari kisah perselisihan antara Mbah Geblong dan Mbah Kiai Babadan akibat wabah penyakit ternak yang menyerang warga desa. Saat keduanya saling pukul menggunakan obor, ternak yang sakit justru sembuh sehingga tradisi itu diwariskan sebagai ritual tolak bala.

“Perang Obor ini kan puncak dari acara Sedekah Bumi. Setelah beliau bertengkar, hewan yang tadinya sakit itu bahkan bisa sembuh, sehingga akhirnya diwasiatkan supaya momentum ini diperingati sebagai ritual tolak bala,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menilai Perang Obor memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya unggulan di Jawa Tengah.

“Tegalsambi ini salah satu destinasi wisata desa yang dirintis. Salah satunya yaitu yang diangkat adalah Perang Obor. Ini bagian dari penarik masyarakat supaya datang ke sini,” ucapnya.

Taj Yasin juga mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dan dukungan media dalam mempromosikan wisata budaya di Jepara.

Menurutnya, tradisi lokal seperti Perang Obor menjadi kekuatan penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *