Jepara – SMA Negeri 1 Tahunan, Kabupaten Jepara menggelar kegiatan kurban pada Kamis, 28 Mei 2026 di lapangan belakang sekolah. Pelaksanaan kurban ini menjadi wujud solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, memberikan pengalaman praktik nyata berkurban bagi para siswa.
Kegiatan yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, alumni, hingga panitia OSIS dan MPK ini diawali dengan apel pembukaan, doa bersama, serta prosesi serah terima hewan kurban pada pagi hari.
Tahun ini, terdapat dua ekor sapi dan dua ekor kambing yang dikurbankan. Satu ekor sapi berasal dari infak siswa-siswi yang dikumpulkan bersama, sementara hewan lainnya merupakan kontribusi guru, alumni, serta siswa yang berkurban di sekolah.
Kepala SMA Negeri 1 Tahunan, Ida Fitriningsih, menyampaikan rasa syukur atas kembali terlaksananya praktik pembelajaran kurban setelah sempat terhenti sejak pandemi.
“Kami sangat bersyukur hari ini keluarga besar SMA Negeri 1 Tahunan dapat kembali menyelenggarakan kegiatan kurban dan praktik pembelajaran kurban,” ungkap Ida.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memberi pengalaman nyata kepada siswa mengenai pengelolaan ibadah kurban secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, penghimpunan infak, kepanitiaan, hingga pendistribusian daging. Kurban juga dimaknai sebagai simbol ketulusan dalam menjalankan perintah Tuhan dan pengendalian hawa nafsu.
Selain sebagai pembelajaran religius, lanjut dia, kegiatan kurban juga menjadi pendidikan sosial bagi siswa. Daging kurban pun dibagikan kepada siswa yang berhak dan masyarakat sekitar melalui proses pendataan yang dilakukan bersama MPK, wali kelas, serta warga sekolah.
Ida menyebut, nilai kepedulian dan gotong royong tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Siswa belajar mengenali siapa yang membutuhkan, bekerja sama tanpa membedakan latar belakang, serta menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab.Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas agama dalam kepanitiaan kurban.
“Ini merupakan bukti moderasi beragama dan toleransi yang tinggi yang kita bangun di sekolah,” tega Ida.
Menurut Ida, seluruh proses kegiatan kurban sejalan dengan komitmen sekolah dalam mewujudkan karakter STAR (Santun, Terampil, Aktif, dan Religius). Ke depan, ia berharap siswa dapat mulai menabung sejak jauh hari agar semakin banyak yang mampu berkurban atas nama sendiri.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sigit Muhammad, menjelaskan bahwa pelaksanaan kurban dirancang sebagai kerja kolaboratif antara OSIS, MPK, dan seluruh elemen sekolah. Menurutnya, gotong royong menjadi inti dari kegiatan tersebut.
“Kami tidak memandang latar belakang agama, namun menitikberatkan pada kerjasama dan kegotongroyongan,” ungka Sigit.
Ia mengakui terdapat tantangan dalam menghimpun infak di tengah kondisi ekonomi yang beragam. Namun, solusi dilakukan melalui pendekatan empati seperti menabung, mencicil, dan menyisihkan uang saku agar seluruh siswa dapat berpartisipasi tanpa paksaan.
Ke depan, pihak sekolah berencana mempersiapkan sistem tabungan kurban yang melibatkan guru dan siswa sejak awal tahun agar partisipasi semakin luas dan terstruktur.
Keterlibatan siswa lintas agama juga terlihat dalam kepanitiaan kegiatan kurban. Salah satunya disampaikan oleh Felicia Catherine, siswa non-Muslim yang turut menjadi panitia kegiatan.
“Menurut saya, kegiatan kurban di sekolah adalah hal yang positif, karena bukan cuma ibadah bagi umat muslim, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, kepedulian, kerja sama, dan saling membantu,” ungkap Felicia.
Felicia mengaku merasa dihargai dan dipercaya karena tetap dilibatkan meskipun berbeda agama.
“Saya merasa dihargai dan dipercaya karena ikut dilibatkan dalam kegiatan ini meskipun berbeda agama. Saya senang bisa ikut berkontribusi dalam acara kurban ini,” tutur Felicia.
Menurut dia, kegiatan tersebut membuat dirinya semakin memahami bahwa perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk saling bekerja sama dan menghargai satu sama lain.
Menjelang siang, paket-paket daging kurban mulai didistribusikan kepada siswa-siswi yang telah didata melalui MPK dan wali kelas, serta kepada warga sekitar sekolah.
Pelaksanaan kurban di SMA Negeri 1 Tahunan tidak hanya menjadi kegiatan ibadah tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran karakter, gotong royong, kepedulian sosial, serta toleransi antarumat beragama di lingkungan sekolah.












