Jepara — Mata Nenek Gesah (80), warga RT 4 RW 3 Desa Kancilan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah berkaca-kaca saat menerima sebungkus daging kurban bantuan Presiden Prabowo Subianto, Rabu (27/5/2026).
Sudah lebih dari 20 tahun ia hidup sebatang kara di rumah sederhana bantuan RTLH pemerintah desa. Tiga anaknya merantau dan tak pernah pulang menjenguk. Bahkan saat Idulfitri tahun ini, Nenek Gesah kembali melewati hari raya seorang diri.
Untuk bertahan hidup sehari-hari, perempuan lansia itu mengandalkan bantuan dari para tetangga sekitar. Karena itu, menerima daging kurban dari Presiden menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
Dengan wajah haru, Nenek Gesah mengaku akan memasak daging tersebut menjadi gulai, makanan sederhana kesukaannya.
Sapi kurban bantuan Presiden Prabowo tahun ini berupa sapi jenis limosin simental dengan bobot sekitar 1 ton 70 kilogram senilai Rp115 juta. Sapi tersebut dibeli dari peternak lokal Jepara, kemudian disembelih di RPH Bangsri sebelum dagingnya dibagikan kepada warga Desa Kancilan melalui panitia kurban Masjid Al Iman.
Takmir Masjid Al Iman, Hariyono mengatakan, total daging kurban dibagikan kepada 650 kepala keluarga. Masing-masing warga menerima setengah kilogram daging murni.
“Oh, itu ada 650 KK. Dan juga itu mendapatkan setengah kiloan daging murni,” kata Hariyono.
Menurutnya, mayoritas warga Desa Kancilan merupakan masyarakat kurang mampu sehingga bantuan kurban tersebut sangat berarti bagi warga.
“Memang kondisi masyarakat Kancilan ya kurang mampu. Dengan adanya bantuan daging dari Pak Prabowo itu sangat menggembirakan pada masyarakat,” ujarnya.
Hariyono mengaku tidak menyangka Masjid Al Iman mendapat bantuan sapi kurban dari Presiden.
“Kalau bantuan dari Pak Prabowo, dari Kancilan khususnya Masjid Al-Iman tidak menyangka. Ujug-ujug ada penyalur terus menawarkan. Dari takmir ya mengiyakan saja karena bantuan,” ucapnya.
Menariknya, pembagian daging kurban dilakukan merata tanpa membedakan agama. Warga non-Muslim di desa tersebut juga menerima bagian kurban.
“Kalau ini, untuk daging dari pemerintah ya memang merata,” jelas Hariyono.
Ia memastikan empat rumah warga Kristen di desa itu juga mendapatkan bagian daging kurban yang sama.
“Dapat. Karena bantuan dari pemerintah, semacam itu,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan hidup yang dijalani Nenek Gesah, sebungkus daging kurban itu bukan sekadar makanan. Bantuan tersebut menjadi tanda bahwa masih ada perhatian dan kepedulian yang datang untuk dirinya di usia senja.












