Jepara – Kuliner tradisional khas Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, yakni kintelan, kini tengah diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Makanan berbahan dasar ketan yang identik dengan tradisi Perang Obor Tegalsambi itu dinilai memiliki nilai sejarah, filosofi, hingga kebersamaan masyarakat yang kuat.
Subkoordinator Sejarah dan Kepurbakalaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Lia Supardianik mengatakan, keberadaan kintelan tidak bisa dipisahkan dari tradisi Perang Obor Tegalsambi yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai WBTb Indonesia pada tahun 2020.
“Ketika kita bicara Perang Obor Tegalsambi, kita tidak bisa melepaskan dengan tradisi kintelan. Kintelan itu sendiri selalu hadir dalam peristiwa tradisi perang obor,” kata Lia, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, kintelan memiliki filosofi yang erat dengan nilai persaudaraan warga. Kintelan terbuat dari beras ketan atau kra ketan yang berarti merekatkan. Sementara kuah areh di atasnya dimaknai sebagai sebuah harapan agar hubungan antarwarga semakin erat dan harmonis.
“Nah, dengan adanya kintelan, diharapkan bahwa persaudaraan antar warga Tegalsambi semakin meningkat, semakin rekat,” ujarnya.
Saat ini, usulan kintelan sebagai nominasi WBTb Indonesia telah memasuki tahapan penilaian pertama. Disparbud Jepara masih melengkapi sejumlah dokumen pendukung dan kajian budaya untuk melanjutkan ke tahap penilaian berikutnya.
Lia berharap dukungan masyarakat dan media turut membantu memperkenalkan kintelan secara luas agar semakin dikenal publik.
“Kami berharap ketika nanti kintelan bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, bisa bersanding dengan Perang Obor yang sudah terlebih dahulu ditetapkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, eksistensi kintelan masih terus dijaga oleh warga asli Desa Tegalsambi. Salah satunya Mbah Muslihah (86), perajin sekaligus penjual kintelan yang sudah berjualan sejak masih gadis. Bersama anaknya, Sripah (53), ia rutin menjual kintelan setiap momentum Perang Obor Tegalsambi.
Kintelan buatan Mbah Muslihah dijual seharga Rp2 ribu per butir. Mereka mulai berjualan sejak pukul 13.00 WIB hingga sore hari di sekitar lokasi tradisi Perang Obor.
Meski belum ada data pasti jumlah pengrajin, masyarakat Tegalsambi hampir selalu membuat kintelan sendiri setiap tradisi Perang Obor digelar. Kuliner ini pun menjadi sajian wajib yang hanya dibuat pada momentum budaya tahunan tersebut.












