Jepara – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, penjualan hewan kurban jenis kerbau di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah mengalami peningkatan. Tingginya minat masyarakat berkurban membuat aktivitas jual beli di sentra peternakan Desa Guwosobokerto, Kecamatan Welahan, tampak lebih ramai dibanding tahun sebelumnya.
Puluhan kandang berbilik anyaman bambu berjajar di kawasan yang dikenal warga sebagai “Hotel Kerbau”. Lokasi tersebut sudah sejak lama menjadi pusat peternakan kerbau milik warga Desa Guwo.
Salah satu peternak, Ghufron (46), mengatakan kawasan kandang kerbau itu telah ada sejak dirinya masih kecil dan menjadi tempat warga memelihara ternak secara turun-temurun.
“Kandangnya sendiri ini udah lama, dari saya kecil juga sudah ada, memang dari dulu warga Guwo nernak kerbaunya ditaruh disini,” kata Ghufron, Senin (25/5/2026).
Menurut Ghufron, jumlah kandang di kawasan tersebut kini tinggal sekitar 36 unit. Sebelumnya terdapat sekitar 60 kandang, namun sebagian digusur akibat proyek normalisasi Sungai SWD II pada tahun 2023.
Meski begitu, penjualan kerbau tahun ini justru mengalami peningkatan. Ghufron mengaku sempat khawatir kondisi ekonomi dan gagal panen yang dialami sebagian petani akan memengaruhi daya beli masyarakat.
“Tahun ini Alhamdulillah ternyata malah ramai. Kerbau yang laku, kalau saya sudah ada 45 kerbau, kemarin sekitar 40-41,” ujarnya.
Kerbau yang dijual di kawasan tersebut dibanderol dengan harga mulai Rp18 juta hingga Rp33 juta per ekor, tergantung ukuran dan kondisi hewan. Setelah transaksi dilakukan, kerbau biasanya tetap dititipkan di kandang peternak hingga mendekati hari penyembelihan kurban.
Selain menjual hewan kurban, para peternak juga tetap merawat kerbau milik pembeli tanpa memungut biaya tambahan. Tradisi penitipan itu disebut sudah berlangsung sejak lama di sentra peternakan Desa Guwosobokerto.












